TAKENGON — Rasa syukur menyelimuti warga Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Pembangunan Jembatan Gantung Reje Payung telah tuntas, mengakhiri empat bulan keterisolasian antarwilayah.
Jembatan yang membentang di atas Sungai Jamboaye itu bukan sekadar infrastruktur penghubung. Ia menjadi simbol hadirnya negara di tengah masyarakat pascabencana.
Kepala Posko Wilayah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Dr. Safrizal ZA membenarkan, pengerjaan jembatan dengan nomenklatur resmi Jembatan Perintis Garuda III ini selesai pada Minggu (2/8/2026). Dua untai kabel utama kini terpasang kokoh, menopang badan jembatan hijau muda yang diapit menara bercat merah putih di kedua ujungnya.
Kebahagiaan Warga dan Guru SDN 10 Linge
Kabar ini langsung menyulut kegembiraan masyarakat Desa Reje Payung dan Desa Jamat. Mereka tidak lagi menempuh jalur alternatif yang jauh dan berisiko untuk saling mengunjungi atau mengangkut hasil bumi.
Kebahagiaan serupa dirasakan keluarga besar SD Negeri 10 Linge. Para guru dan murid yang selama ini terpisah lokasi belajarnya akibat putusnya akses jembatan, akan segera bersatu kembali dalam satu atap sekolah.
Sinergi TNI dan Masyarakat dalam Empat Bulan
Pembangunan jembatan ini merupakan hasil kerja keras lintas elemen. Personel Koramil 05/Linge, 12 personel Batalyon Teritorial Pembangunan 854/Dharma Kersaka (Yon TP 854/DK), satu personel asistensi Zeni Kodam Iskandar Muda, serta tiga warga setempat bahu-membahu selama empat bulan.
Program Jembatan Perintis Garuda merupakan program strategis nasional dari Pemerintah Pusat. Pelaksanaannya sengaja digotong royongkan oleh TNI sebagai garda terdepan pertahanan dan pemulihan pascabencana.
Pesan Kepala Posko PRR: Bersatu Kita Teguh
Safrizal yang juga menjabat Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri menegaskan, selesainya jembatan ini adalah bukti nyata sinergi semua elemen. Ia menilai persatuan antara aparat dan masyarakat menjadi kunci utama mempercepat pemulihan pascabencana.
“Alhamdulillah, berkat kerja keras TNI dan masyarakat, serta dukungan dari pihak lainnya, jembatan perintis Garuda III di Linge telah selesai dibangun. Dengan demikian, aktivitas warga dalam berbagai kepentingan, sudah dapat kembali berjalan normal,” ujar Safrizal.
“Seperti kata pepatah, ‘bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’,” sebutnya sembari mengacungkan jempol untuk kinerja TNI dan semangat gotong royong masyarakat di Linge.
Rencananya, pada Senin (3/8/2026) akan digelar syukuran sederhana sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan apresiasi kepada personel TNI. Momen ini sekaligus menjadi penanda resmi kembalinya konektivitas dan denyut ekonomi di kawasan tersebut.