BANDA ACEH — Sekitar 50 peneliti yang terdiri atas guru besar dan dosen bergelar doktor dari berbagai fakultas di lingkungan USK duduk bersama merumuskan arah pengembangan pusat riset untuk lima tahun ke depan. Mereka tidak hanya membahas riset internal, tetapi juga menyasar persoalan mendasar: bagaimana membuat sains dan teknologi relevan bagi generasi muda Aceh.
Kepala PR-STEM USK menegaskan bahwa roadmap ini bukan sekadar dokumen administratif. Peta jalan itu menjadi komitmen untuk menjadikan PR-STEM sebagai Center of Excellence yang menghasilkan riset berkualitas, inovasi pembelajaran, penguatan kapasitas guru, serta solusi nyata bagi peningkatan mutu pendidikan di Aceh.
“Melalui kolaborasi lintas disiplin, kami ingin membangun ekosistem STEM yang kuat dan berkelanjutan di Aceh,” ungkapnya dalam laporan yang dibacakan pada pembukaan raker.
STEM Harus Menyentuh Keseharian Generasi Z
Wakil Rektor USK Bidang Perencanaan, Kemitraan, dan Bisnis, Dr. Ir. Ramzi Adriman, S.T., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada kurikulum, melainkan cara menyampaikan sains agar tidak terkesan asing. Menurutnya, pendekatan kontekstual menjadi kunci agar pelajar tertarik mendalami bidang STEM.
“STEM harus dibumikan agar menjadi menarik, relevan, dan mampu menginspirasi Generasi Z untuk menjadi inovator masa depan,” ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran menurunnya minat pelajar terhadap bidang sains dan teknologi di berbagai daerah. Raker kali ini mencoba menjawab persoalan itu dengan merumuskan program yang menyentuh langsung sekolah dan guru.
Empat Prioritas Utama dalam Roadmap 2026–2030
Dari diskusi yang dibagi dalam beberapa klaster, peserta merumuskan sejumlah prioritas yang akan dieksekusi secara bertahap. Beberapa poin utama yang menjadi perhatian antara lain:
- Penguatan riset lintas fakultas yang hasilnya bisa langsung diterapkan di sekolah.
- Pengembangan pembelajaran STEM berbasis potensi lokal Aceh, seperti kearifan lokal dan sumber daya alam daerah.
- Pendampingan guru melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk meningkatkan kapasitas mengajar.
- Pembinaan talenta peserta didik serta perluasan kerja sama dengan sekolah, pemerintah, industri, dan mitra internasional.
Pendekatan kolaboratif lintas bidang menjadi kunci agar berbagai inovasi yang dihasilkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar diterapkan secara nyata di lingkungan masyarakat.
Kemitraan Resmi dengan Pemerintah Aceh
Raker ini juga menjadi momentum penting bagi hubungan institusional. Pada kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan kerja sama antara USK dan Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Aceh. Langkah ini menjadi dasar hukum bagi implementasi program-program kolaboratif ke depan.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh yang diwakili Kepala Bidang Pembinaan SMA, Syarwan Joni, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi inisiatif PR-STEM. Pihaknya menilai kolaborasi ini sejalan dengan kebutuhan pemda dalam meningkatkan kompetensi guru dan membina talenta peserta didik di tingkat SMA.
Dengan adanya peta jalan yang jelas hingga 2030, PR-STEM diharapkan mampu memperkuat keterhubungan antara hasil penelitian di kampus dengan kebutuhan riil dunia pendidikan di Aceh. Roadmap tersebut menjadi pedoman agar program riset dan inovasi berjalan terarah, sekaligus menjawab tantangan pendidikan di daerah secara lebih sistematis.