Pencarian

Bayi Orang Utan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh Besar, Induk Bulan Pernah Jadi Korban Perdagangan Satwa

Jumat, 05 Juni 2026 • 15:35:32 WIB
Bayi Orang Utan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh Besar, Induk Bulan Pernah Jadi Korban Perdagangan Satwa
Bayi Orang Utan Sumatera lahir sehat di Cagar Alam Jantho, Aceh Besar.

BANDA ACEH — Kabar gembira datang dari dunia konservasi di Aceh. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengonfirmasi kelahiran bayi Orang Utan Sumatera (Pongo abelii) di kawasan Pusat Reintroduksi Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Bayi berjenis kelamin jantan itu diperkirakan berusia sekitar satu bulan dan terpantau dalam kondisi sehat.

Induk bernama Bulan terpantau aktif bergerak di tajuk hutan sambil menggendong bayinya sejak sebulan lalu. Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata menyebut perilaku Bulan sangat protektif terhadap anaknya. "Saat terpantau, Bulan terlihat aktif bergerak dan menunjukkan perilaku protektif," kata Ujang Wisnu Barata.

Dari Korban Perdagangan Jadi Induk di Alam Liar

Perjalanan hidup Bulan panjang dan penuh tantangan. Ia merupakan korban perdagangan satwa liar yang berhasil diselamatkan di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara, pada 2014 saat usianya masih sekitar dua tahun. Setelah diselamatkan, Bulan menjalani rehabilitasi selama empat tahun di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orang Utan YEL-SOCP Sibolangit, Sumatera Utara.

Pada 2018, Bulan akhirnya dilepasliarkan ke kawasan Pusat Reintroduksi Orangutan di Cagar Alam Jantho. Kini, delapan tahun setelah diselamatkan, Bulan berhasil melahirkan dan membesarkan anaknya di habitat alami.

Menteri Kehutanan Beri Nama Khusus: Badar

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni secara khusus memberikan nama kepada bayi orang utan tersebut, yaitu Badar. Nama itu memiliki makna bulan purnama dan diharapkan menjadi simbol harapan baru bagi kelestarian populasi orang utan di alam liar. "Kelahiran orang utan ini membuktikan perlindungan habitat konsisten, kita mampu memulihkan populasi satwa endemik yang terancam punah. Badar diharapkan tumbuh sehat dan membawa secercah harapan baru bagi keberlanjutan ekosistem hutan," kata Ujang.

Indikator Keberhasilan Program Reintroduksi

BKSDA Aceh menilai kelahiran ini menjadi bukti bahwa program rehabilitasi dan pelepasliaran satwa berjalan efektif. Keberhasilan reproduksi di alam menjadi salah satu indikator penting bahwa orang utan hasil rehabilitasi mampu beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang biak secara alami.

"Perjalanan Bulan dari korban perdagangan satwa liar hingga kini menjadi induk di habitat alaminya menunjukkan bahwa program rehabilitasi dan pelepasliaran satwa dapat memberikan hasil nyata bagi upaya konservasi," ujar Ujang.

Ancaman Punah dan Harapan Baru

Orang Utan Sumatera merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia. Berdasarkan daftar merah IUCN, spesies yang hanya hidup alami di Pulau Sumatera tersebut berstatus critically endangered atau kritis, berada pada tingkat risiko sangat tinggi untuk punah di alam liar. Karena itu, setiap kelahiran di habitat alami menjadi kabar penting bagi para pegiat konservasi.

Kepala BKSDA Aceh menambahkan bahwa keberhasilan seperti ini hanya dapat terus berlanjut apabila habitatnya tetap terlindungi. "Kelahiran ini membuktikan bagaimana orang utan sebelumnya korban perdagangan satwa liar dapat memperoleh kesempatan hidup dan berkembang biak di alam. Keberhasilan seperti ini hanya dapat terus berlanjut apabila habitatnya tetap terlindungi," kata Ujang Wisnu Barata.

Bagikan
Sumber: kabarin.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Terkini

Indeks